Check out Greenpeace Asia Tenggara

16 05 2010

Check out Greenpeace Asia Tenggara

Raksasa Makanan-Minuman ini Berhenti Menggunakan Produk yang Berasal dari Perusakan Hutan

Nestle Memberikan Break Pada Orang Utan

May 17, 2010
Akhirnya ada BREAK untuk hutan

Akhirnya ada BREAK untuk hutan

Jakarta, Indonesia — Nestle, perusahaan makanan dan minuman terbesar dunia, hari ini mengumumkan akan menghentikan penggunaan produk-produk yang berasal dari perusakan hutan alam. Langkah ini menyusul kampanye Greenpeace selama dua bulan yang mengungkap penggunaan produk minyak kelapa sawit oleh Nestle dalam produk mereka seperti KitKat (1). Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pulp and paper menyebabkan perusakan hutan alam dan lahan gambut Indonesia serta membawa orang utan yang sedang terancam menuju kepunahan.

Pat Venditti, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Internasional mengatakan: “Kami sangat gembira bahwa Nestle berencana untuk memberikan break pada orang utan dan kami mendesak perusahaan retail internasional lain, seperti Carrefour dan Wal-Mart untuk melakukan hal yang sama. Sejak kampanye kami dimulai, ratusan ribu orang telah menghubungi Nestle untuk mengatakan bahwa mereka tidak akan membeli produk yang terkait dengan perusakan hutan.”

Di bawah kebijakan baru, Nestle berkomitmen untuk mengidentifikasi dan mengeluarkan dari rantai suplai mereka, perusahaan-perusahaan yang mempunyai perkebunan atau peternakan resiko tinggi dan terkait dengan perusakan hutan (2). Penghentian ini akan diterapkan kepada perusahaan macam Sinar Mas, perusahaan kelapa sawit dan pulp and paper terkemuka di Indonesia, jika mereka gagal memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Ini juga memiliki implikasi kepada para pedagang minyak sawit, seperti Cargill, yang masih membeli dari Sinar Mas.

“Langkah Nestle ini memberikan pesan jelas kepada Sinar Mas dan perusahaan minyak kelapa sawit dan pulp and paper lain bahwa melakukan perusakan hutan samasekali tidak bisa diterima di pasar Internasional. Untuk bisa bersaing di pasar internasional, mereka harus membersihkan aktivitas mereka dan menerapkan penghentian sementara perusakan hutan alam serta perlindungan penuh lahan gambut. Greenpeace akan secara ketat melakukan pengawasan dan mendesak agar rencana Nestle ini diterapkan segera,” imbuh Venditti.

Permintaan global untuk minyak kelapa sawit dan kertas memang meningkat, tetapi disikapi oleh perusahaan seperti Sinar Mas dengan melakukan ekspansi di lahan hutan alam dan lahan gambut. Sebagai hasilnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan laju deforestasi tercepat (4) di dunia dan negara ketiga penghasil emisi gas rumah kaca dunia setelah China dan Amerika Serikat (5). Minyak kelapa sawit digunakan dalam banyak jenis produk – mulai dari coklat, pasta gigi, kosmetik hingga biofuel yang disebut-sebut sebagai ramah iklim.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara mengatakan: “Pemerintah Indonesia harus segera melakukan langkah tegas mengatasi pembabatan hutan. Pemerintah harus melindungi lahan gambut dan hutan tropis kita, serta melindungi reputasi industri minyak kelapa sawit dan kertas Indonesia dengan menerapkan perlindungan menyeluruh terhadap lahan gambut dan penghentian sementara pembabatan hutan.”

“Selama ini pemerintah dan industri terlalu berfokus pada ekspansi (menambah) lahan perkebunan. Sekarang saatnya pemerintah dan industri fokus pada peningkatan produktifitas di lahan perkebunan yang sudah ada. Hal ini tidak hanya bisa meningkatkan produktifitas industri sawit Indonesia guna memenuhi peningkatan permintaan internasional, tetapi juga secara langsung meningkatkan kesejahteraan petani sawit berskala kecil,” Bustar menutup percakapan.

Lets safe our forest !!!!!

Artikel ini berasal dari


The Three Little Pigs

13 12 2009

One of the fairy tales thats I used to listen when I was a child is the three little pigs. This story brought alot of memories for all of us.

The Three Little Pigs

Once upon a time there were three little pigs, who left their mummy and daddy to see the world.

All summer long, they roamed through the woods and over the plains, playing games and having fun. None were happier than the three little pigs, and they easily made friends with everyone. Wherever they went, they were given a warm welcome, but as summer drew to a close, they realized that folk were drifting back to their usual jobs, and preparing for winter. Autumn came and it began to rain. The three little pigs started to feel they needed a real home. Sadly they knew that the fun was over now and they must set to work like the others, or they’d be left in the cold and rain, with no roof over their heads. They talked about what to do, but each decided for himself. The laziest little pig said he’d build a straw hut.

“It will only take a day,’ he said. The others disagreed.

“It’s too fragile,” they said disapprovingly, but he refused to listen. Not quite so lazy, the second little pig went in search of planks of seasoned wood.

“Clunk! Clunk! Clunk!” It took him two days to nail them together. But the third little pig did not like the wooden house.

“That’s not the way to build a house!” he said. “It takes time, patience and hard work to build a house that is strong enough to stand up to wind, rain, and snow, and most of all, protect us from the wolf!”

The days went by, and the wisest little pig’s house took shape, brick by brick. From time to time, his brothers visited him, saying with a chuckle.

“Why are you working so hard? Why don’t you come and play?” But the stubborn bricklayer pig just said “no”.

“I shall finish my house first. It must be solid and sturdy. And then I’ll come and play!” he said. “I shall not be foolish like you! For he who laughs last, laughs longest!”

It was the wisest little pig that found the tracks of a big wolf in the neighborhood.

The little pigs rushed home in alarm. Along came the wolf, scowling fiercely at the laziest pig’s straw hut.

“Come out!” ordered the wolf, his mouth watering. I want to speak to you!”

“I’d rather stay where I am!” replied the little pig in a tiny voice.

“I’ll make you come out!” growled the wolf angrily, and puffing out his chest, he took a very deep breath. Then he blew with all his might, right onto the house. And all the straw the silly pig had heaped against some thin poles, fell down in the great blast. Excited by his own cleverness, the wolf did not notice that the little pig had slithered out from underneath the heap of straw, and was dashing towards his brother’s wooden house. When he realized that the little pig was escaping, the wolf grew wild with rage.

“Come back!” he roared, trying to catch the pig as he ran into the wooden house. The other little pig greeted his brother, shaking like a leaf.

“I hope this house won’t fall down! Let’s lean against the door so he can’t break in!”

Outside, the wolf could hear the little pigs’ words. Starving as he was, at the idea of a two course meal, he rained blows on the door.

“Open up! Open up! I only want to speak to you!”

Inside, the two brothers wept in fear and did their best to hold the door fast against the blows. Then the furious wolf braced himself a new effort: he drew in a really enormous breath, and went … WHOOOOO! The wooden house collapsed like a pack of cards.

Luckily, the wisest little pig had been watching the scene from the window of his own brick house, and he rapidly opened the door to his fleeing brothers. And not a moment too soon, for the wolf was already hammering furiously on the door. This time, the wolf had grave doubts. This house had a much more solid air than the others. He blew once, he blew again and then for a third time. But all was in vain. For the house did not budge an inch. The three little pigs watched him and their fear began to fade. Quite exhausted by his efforts, the wolf decided to try one of his tricks. He scrambled up a nearby ladder, on to the roof to have a look at the chimney. However, the wisest little pig had seen this ploy, and he quickly said.

“Quick! Light the fire!” With his long legs thrust down the chimney, the wolf was not sure if he should slide down the black hole. It wouldn’t be easy to get in, but the sound of the little pigs’ voices below only made him feel hungrier.

“I’m dying of hunger! I’m going to try and get down.” And he let himself drop. But landing was rather hot, too hot! The wolf landed in the fire, stunned by his fall.

The flames licked his hairy coat and his tail became a flaring torch.

“Never again! Never again will I go down a chimney” he squealed, as he tried to put out the flames in his tail. Then he ran away as fast as he could.

The three happy little pigs, dancing round and round the yard, began to sing. “Tra-la-la! Tra-la-la! The wicked black wolf will never come back…!”

From that terrible day on, the wisest little pig’s brothers set to work with a will. In less than no time, up went the two new brick houses. The wolf did return once to roam in the neighborhood, but when he caught sight of three chimneys, he remembered the terrible pain of a burnt tail, and he left for good.

Now safe and happy, the wisest little pig called to his brothers. “No more work! Come on, let’s go and play!”

The End



13 12 2009

Hari-hari biasa telah banyak ku jalani, rutinitas setiap hari kutempuh. Tanpa disadari waktupun sudah berlalu. Semuanya sudah berjalan sesuai yang dikehendaki-Nya. Waktu suatu hal yang tidak dapat diputar balikkan, banyak yang ingin diulang untuk dirubah dan diperbaiki tapi tak punya kuasa tuk melakukannya. Lalu apa yang harus ku perbuat? Apa yang bisa ku lakukan? Bagaimanakah ku seharusnya? Pertanyaan yang muncul selalu dalam benak yang sempit ini di dalam lautan kehendak. Kita hanya bisa berusaha sebaiknya, sebaik yang kita bisa, tidak bisa sebaik yang orang inginkan, tapi sebaiknya diri kita pribadi. Suatu hal yang pasti waktu akan menjawab semuanya. Menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada. Rubahlah diri selagi bisa dan mampu !!!

Malam ini entah apa yang terjadi, sesuatu melintas di dalam pikiran. Ternyata sudah berumurkah aku. Perasaan yang tidak mudah digambarkan. Bagaikan melihat sesuatu yang abstrak. Semua masa lalu memang tidak bisa untuk dirubah, jika ingin memperbaiki hidup tunjukkanlah diri pada dunia, jadilah manusia yang lebih baik, hargai setiap waktu yang didapatkan dan berjuanglah untuk masa depan karena kita tidak akan tahu apa yang terjadi. Banyak yang ingin ditulis, banyak yang ingin dikatakan, banyak yang ingin dilakukan. Tapi sesuatu seonggok bongkahan batu besar pasti akan menghalangi lalu perbuatlah, bertindaklah jangan hanya menunggu, kikislah batu-batu itu sebutir demi butir sampai tersisa hanya butiran-butiran yang bisa dilewati. Tangan pasti sakit, kaki pasti terluka, badan pasti hancur, mulut pasti bergumam, kepala pasti panik tapi hati akan selalu menunjukkan yang benar. Maka berjalanlah!!!!

Yesterday is a past, tommorow is a mystery

But today is a gift that’s why we call it presents

Nannochloropsis sp.

13 12 2009

Nannochloropsis (air tawar, air laut). Merupakan sel berwarna kehijauan, tidak motil, dan tidak berflagel. Selnya berbentuk bola, berukuran kecil dengan diamater 4-6 mm. Organisme ini merupakan divisi yang terpisah dari Nannochloris karena tidak adanya chlorophyl b. Merupakan pakan yang populer untuk rotifer, artemia, dan pada umumnya merupakan organisme filter feeder (penyaring) (Anon, 2008).

Menurut Adehoog dan Simon (2001) dalam Anon (2009) Kalasfikasi Nannochloropsis sp adalah sebagai berikut:
Baca entri selengkapnya »

Chlorella sp.

13 12 2009

Menurut Vashista (1979) dalam Rostini (2007) Chlorella termasuk dalam:

Filum        : Chlorophyta

Kelas         : Chlorophyceae

Ordo         : Chloroccocales

Famili        : Chlorelllaceae

Genus         : Chlorella

Spesies     : Chlorella sp.

Sel Chlorella berbentuk bulat, hidup soliter, berukuran 2-8 µm. Dalam sel Chlorella mengandung 50% protein, lemak serta vitamin Baca entri selengkapnya »

Spirulina sp.

13 12 2009

Spirulina adalah ganggang renik (mikroalga) berwarna hijau kebiruan yang hidupnya tersebar luas dalam semua ekosistem, mencakup ekosistem daratan dan ekosistem perairan baik itu air tawar, air payau, maupun air laut. Klasifikasi Baca entri selengkapnya »

Research Plan “dadakan”

8 07 2009

Seperti judulnya tulisan atau artikel ini saya buat secara sangat mendadak hanya dalam waktu 4 hari yang disebabkan karena satu dan lain hal.  Jadi setelah saya membaca ulang ternyata banyak sekali diketemukan kekurangan serta kesalahan-kesalahan baik dari segi tema penelitian maupun penulisannya. Namun bagaimanapun juga ini adalah tulisan ilmiah pertama saya yang saya tulis dalam bahasa inggris, karena itu tulisan ini saya tampilkan di blog saya agar bisa saya kenang sebagai bahan pembelajaraan untuk saya pribadi.

Bagi rekan-rekan yang secara tidak sengaja membacanya, saran serta perbaikan sangat saya harapkan baik dari segi tema maupun penulisannya. feel free to do it. Baca entri selengkapnya »